Nilai artikel ini
(0 votes)

Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada tahun 1984,1985 dan 1992.Pada tahun tersebut produksi kedelai Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kebutuhan kedelai dari tahun ketahun terus mengalami peningkatan seiring dengan bertumbuhnya jumlah penduduk dan kebutuhan bahan industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, maupun produk olahan lain. Di Indonesia rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahun lebih kurang 2.3 juta ton, sedangkan produksi kedelai nasional baru mencapai 870.068 ton atau setara dengan 37.85 %dari kebutuhan. Kekurangan tersebutdipenuhi melalui impor kedelai dari beberapa negara di luar Indonesia. Kebutuhan import kedelai Indonesia saat ini berada di peringkat no 2 tertinggi dunia selain komoditi jagung di tanah air. Tantangan pada harga beli di pasaran yang murah dan dibawah nilai harga pokok produksi (HPP) dari petani memicu munculnya keengganan petani Indonesia dalam melakukan budidaya kedelai. Hal ini dapat terlihat dari penurunan kapasitas dan produktifitas kedelai lokal dari tahun ke tahun.Tahun 1990 Indonesia memiliki lahan kedelai seluas 1.334 ha dan pada tahun 2005 merosot tajam sebanyak 46,55% dan menjadi 621 ribu ha (DEPTAN). Tantangan lainnya adalah minimnya ketersediaan kebutuhan kedelai lokal sehingga memberikan peluang kepada negara luar untuk mengekspor kedelai ke Indonesia. Pengrajin merasakan sulitnya suplai kedelai lokal yang memenuhi standart industri. Kemudahan pengrajin mendapatkan kedelai import, bagi pengrajin besar kemudahan kedelai import sangat terasakan karena sistem beli bayar dibelakang hingga beberpa kali.

Nilai artikel ini
(0 votes)

Kualitas kedelai lokal yang lebih baik dari kedelai import dan juga bersifat non modifikasi genetik (Non GMO/Genetic Modified Organism) merupakan nilai tambah yang dapat mendukung gerakan pemerintah dalam peningkatan gizi nasional. Ketergantungan akan kedelai impor selama ini yang bersifat GMO dan dapat berdampak pada kesehatan di masa depan membuat masyarakat Indonesia mengabaikan kedelai lokal. Hal ini ditunjukkan dari psikologi harga beli masyarakat yang masih rendah di kedelai lokal. Industri dan pelaku usaha pengolahan kedelai pun lebih memilih kedelai import dengan pertimbangan kemudahan ketersediaan stok sepanjang tahun membuat kedelai lokal semakin sulit berkompetisi dengan kedelai impor.

Produktifitas kedelai lokal sendiri terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun dan volume ketergantungan import senantiasa meningkat. Padahal, produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dalam pengentasan kemiskinan dan meningkatkan potensi daerah dalam mewujudkan ketahanan serta keamanan pangan di Indonesia. Penggunaan kedelai lokal untuk menunjang industri kecil dalam berbagai pengolahan produk pangan seperti tempe, tahu dan kecap memiliki nilai yang sangat tinggi di tanah air lebih unggul karena kesegaran produk (lebih fresh), rasanya lebih gurih dan terasa kedelainya dan dalam berbagai kandungan kimia protein lebih tinggi dibanding import

Selasa, 28 November 2017 10:38

3 Manfaat Kedelai Untuk Kecantikan

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(3 votes)

Kedelai dikenal sebagai panganan yang memiliki nilai gizi yang besar. Terdapat begitu banyak resep yang bisa diolah dari kedelai seperti tempe, tahu, kecap atau bisa dijadikan susu dan yoghurt.

Para dokter juga menyetujui bahwa kacang kedelai baik untuk kepadatan tulang, menjaga berat badan dan mengobati berbagai penyakit. Kabar baiknya bagi wanita adalah kacang kedelai bisa dijadikan sebagai perawatan kecantikan. Kacang kedelai dipercaya baik untuk kulit dan rambut.

Apa saja manfaatnya? Seperti dikutip fashionihub, berikut ini manfaat kedelai bagi kecantikan.

Melembabkan kulit

Kedelai merupakan pelembab terbaik untuk kulit kombinasi. Dapat melembabkan bagian-bagian kulit yang kering, sekaligus mengikis kelebihan minyak di kulit yang berminyak. Selain itu, kedelai juga mampu memudarkan tanda-tanda penuaan seperti perubahan warna kulit, bintik hitam, bahkan gari-garis halus.

Penuaan membuat hilangnya estrogen yang berperan untuk menjaga elastisitas kulit. Kedelai memiliki kandungan fitoestrogen untuk membantu tubuh menghasilkan lebih banyak estrogen yang dapat mengurangi keriput dan garis-garis halus. Kedelai juga mengandung vitamin E yang mampu menyingkirkan sel kulit mati dan membentuk sel kulit baru, sehingga membuat wajah tampak lebih muda dan bersinar.

Untuk melembabkan kulit, caranya dengan menghancurkan kedelai yang telah ditambah sedikit air, lalu terapkan pada wajah dan diamkan selama 15 hingga 20 menit. Perawatan ini bisa digunakan seminggu tiga kali.

Menguatkan kuku

Kedelai sangat baik untuk kuku rapuh. Mengonsumsi kedelai secara teratur selama enam bulan akan membuat kuku kuat dan bersinar. Kedelai juga mampu melembabkan kuku. Selain itu, kedelai juga dikenal untuk mengobati kuku yang terinfeksi jamur. Cukup celupkan kuku di kecap kedelai dan Anda terbebas dari jamur.

Rambut bersinar

Kedelai juga bisa digunakan sebagai produk perawatan rambut. Manfaatny adalah dapat membuat rambut lebih halus, lembut dan bersinar. Caranya dengan mengoleskan jus kacang kedelai pada rambut. Lakukanlah perawatan ini selama tiga bulan untuk melihat hasil yang diinginkan.

 

sumber : wolipop

Selasa, 14 November 2017 12:41

11 Manfaat Kacang Kedelai bagi Kesehatan

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(4 votes)

Berikut ialah manfaat kesehatan yang mampu Anda peroleh dari kedelai, seperti:
1. Meningkatkan metabolisme. Kedelai ialah sumber protein nabati yang sangat tinggi. Bila Anda mempunyai protein yang sangat cukup di tubuh, fungsi metabolisme pun akan meningkat jauh lebih besar. Protein sendiri ialah blok yang berfungsi sebagai pembangun sel serta pembuluh darah.


2. Diet sehat. Bagi Anda yang ingin menurunkan berat badan secara sehat, Anda boleh mencoba kacang yang satu ini, kedelai mampu mengurangi nafsu makan, sehingga akan membantu Anda untuk mengurangi kebiasaan makan yang berlebihan.


3. Pencegah kanker. Kacang kedelai memiliki kandungan antioksidan sehingga baik untuk mengurangi risiko berbagai macam kanker. Salah satunya adalah kanker payudara. Antioksidan yang dimilikinya juga bermanfaat untuk menetralisir radikal bebas. Radikal bebas ini mampu menyebabkan sel sehat bermutasi menjadi sel kanker.


4. Menjaga kesehatan jantung. Kedelai sebenarnya memang memiliki kandungan lemak, namun bukan lemak jenuh, makanan yang memiliki kandungan lemak tidak jenuh akan membantu menurunkan kolesterol yang berlebih.


5. Menopause. Ketika wanita menginjak menopause, kadar estrogen yang berada di dalam tubuhnya akan mengalami penurunan secara signifikan. Kacang kedelai akan mampu menurunkan gejala menopause seperti mood yang berubah secara drastis, lebih lapar. Menopause ini bisa menjadi masa yang begitu traumatis untuk banyak wanita, namun pengonsumsian kedelai bisa menjadi cara jitu untuk mengatasi transisi ini.


6. Osteoporosis. Kandungan kalsium yang tinggi menjadikan kedelai sebagai salah satu makanan untuk menguatkan tulagn dan mencegah pengeroposan yang dikenal sebagai osteoporosis. Selain itu, kedelain mengandung Fitoestrogen yang berfungsi memperkuat tulang. Serta kandungan proteinnya mencegah pengeluaran kalsium lewat urine.


7. Mencegah anemia. Tempe merupakan salah satu olahan kedelai yang kaya gizi dan manfaat. Salah satu manfaatnya adalah mencegah anemia atau kekurangan sel darah merah. Hal ini karena selain kandungan zat besi tempe juga mampu meningkatkan aktivitas vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah.


8. Diabetes melitus. Kandungan serat, vitamin B kompleks, serta kandungan asam aminonya membuat kedelai menjadi makanan sempurna untuk penderita diabetes. Kandungan seratnya juga ikut membantu mengendalikan kadar gula darah.


9. Menyehatkan pencernaan. Kandungan serat dalam kacang kedelai dan produk olahannya membantu kontraksi otot perut sehingga mencegah sembelit. Kandungan antibakterinya juga dapat mencegah diare.


10. Anti aging. Sebagai makanan yang kaya serat, kacang kedelai mengandung banyak antioksidan. Jika dikonsumsi secara teratur dapat mencegah penuaan dini. Tapi harus dibarengi dengan gaya hidup sehat dan olahraga rutin.


11. Manfaat lain. Kacang kedelai juga mengandung magneisum yang berfungsi mengatur tekanan darah. Kandungan fosfornya juga berfungsi untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi.

 

 

Perhatian: Kacang kedelai yang mengandung purin sedang (50 – 100 mg)/100 g hendaknya dikonsumsi dalam jumlah sedang-sedang saja karena dapat mengakibatkan asam urat.

Sumber : Manfaatsehat

Selasa, 14 November 2017 12:35

Kandungan Gizi Kacang Kedelai

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(2 votes)

Kacang kedelai ialah salah satu jenis polong-polongan yang memiliki kandungan nutrisi yang begitu baik untuk tubuh. Di Indonesia banyak sekali olahan kacang kedelai contohnya seperti tahu, tempe, hingga susu kedelai. Bahkan di beberapa negara seperti Cina dan Jepang, kedelai di jadikan sebagai salah satu makanan yang sering di konsumsi penduduknya. Hasilnya bisa Anda lihat, tingkat kesehatan negara tersebut memang jauh lebih tinggi. Sebenarnya apa kandungan gizi dari kacang kedelai ini?

 

Selain dikonsumsi begitu saja, kedelai juga biasa dijadikan sebagai makanan olahan. diantaranya tempe, tahu, susu kedelai, kecambah (tauge), tauco, kembang tahu, oncom, kecap dan lain sebagainya. Kacang kedelai ternyata memiliki banyak sekali kandungan gizi.
Lemak, kacang kedelai sendiri memiliki kandungan lemak, namun kandungan lemak yang berada di dalamnya adalah lemak tak jenuh seperti asam linolenat serta asam omega 3. Istimewanya ialah hadirnya omega 3.
Protein, kedelai sangat kaya dengan kandungan protein. Kandungan protein nabati yang ada di dalam kedelai ini sangat di sarankan untuk para vegetarian. Fungsi protein ini sangat penting untuk membantu membangun sel yang ada di tubuh.
Serat, mungkin kita berfikir serat hanya terdapat di dalam buah-buahan, namun pada kenyataannya kedelai memiliki 8 gram serat, namun untuk kedelai yang telah mengalami masa pengolahan.
Kalsium, kedelai merupakan sumber kalsium yang sangat baik bila Anda bandingkan dengan berbagai kacang-kacangan yang lainnya. Akan tetapi pengolahan kedelai juga mampu mempengaruhi kandungan kalsium.
Lechitin, ia akan menghasilkan senyawa choline. Senyawa ini sangat berguna untuk metabolisme tubuh, bahkan zat choline akan membantu metabolisme lemak yang sering tersendat di hati. Choline ini akan melindungi organ hati.
Selain itu, kacang kedelai juga merupakan makanan sumber vitamin A, vitamin B kompleks, dan vitamin E, serta fosfor, magnesium, juga zat besi. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat pada table kandungan gizi kacang kedelai (Soybeans) di bawah ini:

 

 

sumber : manfaatsehat

Nilai artikel ini
(2 votes)

Oleh:

Dody Kastono

Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman

Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta

 

  1. Pola Tanam

Iklim di Indonesia terbagi dua musim, yaitu musim hujan (MH) dan musim kemarau (MK). Akhir-akhir ini perubahan iklim dan cuaca cukup berpengaruh besar terhadap bidang pertanian. Khususnya adanya dampak pemanasan gobal (Global Warming) yang menyebabkan adanya pergeseran pola musim, yang menyebabkan kegagalan panen maupun kematian tanaman dikarenakan adanya dampak kekeringan (El-Nino) serta hujan berlebihan bahkan banjir (La-Nina). Di daerah lahan marjinal seperti di daerah tadah hujan/lahan kering maupun lahan pasir pantai, ketersediaan air bagi tanaman cenderung terbatas dan kurang mencukupi bagi kebutuhan pertumbuhan tanaman.

Keadaan yang spesifik ini berkonsekuensi menuntut adanya campur tangan manusia dalam mengelola perencanaan waktu tanam dan panen yang tepat. Hal ini dikarenakan, perencanaan waktu tanam dan panen dapat menjadi penentu bagi keberhasilan usaha tani. Dampak negatif perubahan ekstrem iklim dan cuaca dalam suatu periode penanaman kedelai dapat menimbulkan berbagai permasalahan, hal ini seperti ditunjukkan dalam Tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Permasalahan budidaya kedelai di lahan sawah serta akibat dan cara mengatasinya.

Sumber: Adisarwanto dan Wudianto (1999) dan pengalaman penulis.

 

Tabel 2.   Permasalahan budidaya kedelai di lahan sub-optimal (lahan kering) serta akibat dan cara mengatasinya.

Berdasarkan Tabel 1 dan 2 di atas, menunjukkan bahwa usaha tani kedelai cukup beresiko apabila tidak dilakukan penyesuaian terhadap perubahan kondisi lingkungan, khususnya terhadap anasir iklim dan cuaca yang juga berdampak negatif adanya gangguan hama dan penyakit.

Alternatif solusi yang dapat diupayakan adalah mengatur pola tanam yang disesuaikan berdasarkan wilayah dan kondisi lahannya.

  1. Sawah tadah hujan dapat menerapkan pola tanam sebagai berikut: (a) padi – kedelai – bera, (b) padi – kedelai – palawija lain, (c) kedelai – padi – palawija lain, dan (d) gogo rancah – padi sawah (walik jerami) – kedelai. Di dalam menentukan pola tanam yang tepat perlu dipertimbangkan distribusi curah hujannya, apabila curah hujan tinggi pada awal musim hujan maka pola (a dan b) merupakan pilihan yang tepat.
  2. Pola tanam sawah beririgasi semi teknis adalah: (a) padi – kedelai – palawija lain, dan (b) padi – kedelai – kedelai. Sedangkan untuk sawah beririgasi teknis, di mana pembagian air untuk sawah, misalnya di sekitar bendungan seperti Jatiluhur, Gajah Mungkur, dan Karangkates lamanya antara 9-11 bulan memberikan alternatif pola tanam kedelai sebagai berikut: (a) padi – padi – kedelai, ini sesuai untuk sawah yang airnya tersedia antara 10,5-11 bulan, dan (b) padi – kedelai – kedelai, ini sesuai untuk sawah yang airnya tersedia antara 9-9,5 bulan.

Pola tanam yang sudah disepakati oleh kelompok tani di suatu wilayah harus dilakukan secara serempak dan kompak oleh anggota kelompok tani. Hal ini dimaksudkan untuk pengelolaan usaha tani yang lebih terkendali dan terarah, khususnya dalam pengaturan pemeliharaan tanaman (pengairan, pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman). Di samping itu, pengaturan tenaga untuk tanam, pemeliharaan, dan panen dapat dikoordinasikan sejak dini. Secara keseluruhan, apabila semua tahapan budidaya kedelai dapat dilakukan secara baik sesuai kebutuhan tanaman, maka ada dapat diharapkan adanya peningkatan produksi dan kualitas secara berkelanjutan.

 

 

 

 

Nilai artikel ini
(0 votes)

Oleh:

Dody Kastono

Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman

Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM

 

Agroforestri berhubungan dengan sistem penggunaan lahan di mana pohon ditumbuhkan berasosiasi dengan tanaman pertanian, pakan ternak, atau padang penggembalaan. Asosiasi ini dapat dalam waktu, seperti rotasi antara pohon dan komponen lainnya, atau dalam dimensi ruang, di mana komponen tersebut ditumbuhkan bersama-sama pada lahan yang sama. Dalam sistem tersebut tetap mempertimbangkan nilai ekologi dan ekonomi dalam interaksi antar-pohon dan komponen lainnya.

Masyarakat sudah terbiasa melakukan penanaman secara tumpangsari di kawasan hutan atau lahan kering (tadah hujan). Kedelai sebagai tanaman pangan yang penting dan strategis (menduduki rangking ketiga setelah padi dan jagung), sekarang ini porsi terbesarnya dipenuhi dari kedelai impor. Permasalahan yang dihadapi antara lain rendahnya luas areal tanam dan rendahnya produktivitas kedelai dari waktu ke waktu.

 

Gambar 1. Kedelai hitam Mallika umur 21 hari setelah tanam, penanaman di Sidolaju Widodaren (kiri) dan Pelanglor Kedunggalar (kanan) kabupaten Ngawi.

 

Program peningkatan produksi dan kualitas kedelai, selain melalui program intensifikasi juga masih harus ditunjang dengan program ekstensifikasi. Pengembangan kedelai dihadapkan pada terbatasnya lahan subur. Lahan yang masih tersedia umumnya tergolong marjinal sehingga memerlukan investasi yang lebih besar untuk dapat dimanfaatkan bagi pengembangan kedelai. Salah satu lahan yang berpotensi digunakan untuk penanaman kedelai adalah di kawasan hutan. Oleh karena itu, agroforestri jati dan kedelai dapat menjadi salah satu alternatif terbaik untuk dikembangkan.

Kedelai dapat ditanam di kawasan hutan yang umur jatinya sampai dengan 3 tahun, di mana tingkat naungannya masih relatif belum tinggi (< 30 %). Beberapa permasalahan yang dapat ditemukan di lahan kawasan hutan  dan solusi yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Kurangnya intensitas penyinaran akibat naungan jati dapat diantisipasi dengan penggunaan varietas kedelai toleran naungan. Badan Litbang Pertanian telah melepas varietas kedelai toleran naungan. Varietas Wilis dan Argopuro mampu berproduksi cukup tinggi dalam kondisi ternaungi hingga intensitas 50 %. Kedua varietas berpeluang dikembangkan di lahan kawasan hutan jati muda.
  2. Masalah kemasaman dan ketidaksuburan tanah dapat diatasi dengan teknologi ameliorasi melalui pemberian kapur atau pupuk kandang. Varietas Tanggamus adaptif dan mampu berproduksi hingga 2,88 ton/ha di lahan kering masam. Pengembangan teknologi produksi kedelai melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada lahan kering masam mampu memberikan hasil 2,0 ton/ha. Bahan organik diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, di mana kadar bahan organik optimal adalah sebesar 5 %, sementara lahan di pulau Jawa kadar bahan organiknya di bawah 2 %. Bahan organik juga diperlukan oleh Rhizobium untuk menunjang proses pembentukan bintil akar.
  3. Keterbatasan ketersediaan air dapat diantisipasi dengan pengaturan pola tanam yang tepat, terutama perencanaan waktu tanam dan panen yang tepat serta penggunaan varietas kedelai tahan kekeringan. Salah satu varietas lokal yang sudah teruji dan terbukti mampu beradaptasi dan berproduksi baik di lahan kawasan hutan adalah Kedelai Mallika dengan rerata produksi di atas 2,0 ton/ha.

 

Gambar 2. Kedelai hitam ditanam di kabupaten Bojonegoro: lebih dari 85 polong dengan 3 cabang produktif (kiri) dan di Pelanglor Kedunggalar kabupaten Ngawi: 348 polong dengan 12 cabang produktif (kanan).

 

Keuntungan pengembangan kedelai di lahan kawasan hutan adalah:

  1. mampu memasok nitrogen alami bagi tanaman kedelai dan jati muda, sehingga produktivitas lahannya meningkat,
  2. mencegah erosi tanah dan air limpasan (run off),
  3. memberikan tambahan pendapatan bagi petani sebelum jati ditebang, dan
  4. mampu menunjang program Jalur Benih Antar Lapangan dan Musim (Jabalsim) untuk kedelai, sehingga dalam penyediaan benih dapat dilakukan dengan baik untuk memenuhi kebutuhan benih antar wilayah penanaman secara berkelanjutan antara lahan sawah dan lahan baon atau lahan kering.

Pada lahan jati muda, kedelai dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman pangan semusim lainnya. Selain meningkatkan produktivitas lahan, cara ini juga memberikan keuntungan finansial bagi masyarakat maupun Perhutani. Sejalan dengan siklus produktifnya, jati memerlukan peremajaan dalam periode tertentu. Masa peremajaan ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kedelai hingga jati berumur 3 tahun. Kalau 10 % saja dari total areal hutan jati di setiap Kuasa Pemangku Hutan (KPH) mengalami peremajaan tanaman per tahun, maka tersedia lahan yang tersedia cukup luas untuk pengembangan kedelai.

Swasembada kedelai akan semakin mudah untuk dicapai secara bertahap apabila ditunjang dengan penyediaan luas areal tanam mencapai sekitar 1,5 juta ha dengan asumsi rerata produksi 1,5 ton/ha atau lebih, maka akan dihasilkan minimal 2,25 juta ton kedelai yang diharapkan dapat mendekati pemenuhan kebutuhan kedelai nasional secara bertahap. Angka prediksi ini bukan suatu hal yang sangat sulit untuk dicapai, namun demikian perlu ada komitmen bersama antar berbagai pihak, khususnya didukung oleh 4 pilar A-B-C-G (academy, business, community, and government) yang difasilitasi dengan adanya regulasi yang jelas dan berpihak pada petani. Ke depan bila program intensifikasi dan ekstensifikasi dapat diselaraskan bersama secara simultan, maka hal ini tentu saja dapat untuk mengurangi impor kedelai yang hingga saat ini masih terus berlangsung, bahkan dapat menuju swasembada kedelai secara mandiri dan berkelanjutan.

 

 

 

Program Swasembada Padi dan Jagung oleh Pemerintah melalui Kementrian Pertanian  tanpa disadari  malah  berefek pada penyusutan produksi tanam kedelai oleh petani.  Bukannya swasembada kedelai terjadi di tahun ini, sebaliknya produksi kedelai diperkirakan sebesar 750 ribu ton malah menurun dibandingkan tahun 2016 yang mencapai diangka 890 ribu ton.  Komoditi kedelai dipandang kurang kompetitif dibandingkan dengan komoditi padi dan jagung menjadikan petani lebih suka memilih fungsi lahan untuk bertanam di komoditi padi dan jagung.  Hasil panen padi  dengan harga rata –rata Rp 7.500 sd Rp 8.000 perkilo dan rata-rata produksi panen 4 ton hingga 5 ton per ha, petani mendapatkan hasil panen Rp 30juta hingga Rp 40 jt/ha.  Demikian juga dengan jagung, dengan hasil panen rata-rata Rp 3.000 sd Rp 3.500 perkilo, dan rata rata produksi panen 11 sd 12 ton per ha, petani mendapatkan hasil panen Rp 33jt hingga Rp 36jt  perha.  Sedangkan jika menanam kedelai dengan harga Rp 6.000 sd Rp 7.000 per kilo, produksi kedelai 1,5 ton sampai dengan  2 ton per ha, akan didapatkan hasil panen sebesar Rp 10.5jt sampai dengan Rp 14jt per ha. Dengan rata rata masa panen kurang lebihnya 100 hari dan biaya produksi yang mendekati sama antar ketiga komoditi diatas. Petani rata rata menanam komoditi dilahan yang sama untuk penanaman komoditi baik itu padi, jagung dan kedelai. Upaya menaikkan produksi padi dan jagung oleh Pemerintah dengan sendirinya berdampak pada penurunan produksi kedelai ditingkat petani. Dengan tingkat kebutuhan pangan akan bahan baku kedelai yang diolah sebagian masyarakat Indonesia menjadi tahu dan tempe, hal ini mengakibatkan import kedelai menjadi semakin meningkat.

Upaya menaikkan produksi padi dan jagung sedapat mungkin oleh Pemerintah juga tetap diterapkan pada komoditi kedelai mengingat akan peran strategis dari komodi ini bagi masyarakat.  Menaikkan nilai kompetitif kedelai dibanding dengan komoditi pangan yang lain seperti padi dan jagung merupakan salah upaya untuk kembali mengangkat komoditi ini menarik bagi para petani untuk menanamnya.  Pemberian insentif untuk komoditi kedelai agar dapat menaikkan minat petani kembali menanam sudah perlu dilakukan kembali dan harapannya kedelai lokal petani yang lebih bersifat murni dan menyehatkan ini akan kembali dipilih dan diolah menjadi pangan sehat bagi masyarakat dibanding kedelai import yang didatangkan dari Amerika sebagian besar tergolong jenis rekayasa genetik/transgenik

Sebagai sumber protein nabati, kedelai berperan penting dalam meningkatkan gizi masyarakat. Saat ini, Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan berkembangnya industri pangan. Kedelai kaya akan zat besi, kalsium, vitamin B komplek, fosfor, serta lemak Dengan adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat dari bahan makanan hewani ke bahan makanan nabati, maka kedelai mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan menjadi aneka produk-produk pangan. Protein kedelai mempunyai susunan asam amino yang mendekati susunan asam amino esensial protein susu. Disatu sisi diversifikasi pengolahan makanan berbasis kedelai masih sangat terbatas dijumpai dimasyarakat. Pengolahan kedelai menjadi Susu kedelai menjadikan produk pangan yang kaya gizi yaitu protein, , karbohidrat, kalsium, phosphor, zat besi, provitamin A, Vitamin B kompleks (kecuali B12), dan lemak nabati. Bila dibandingkan dengan Cina, Filipina atau Thailand, tingkat konsumsi susu kedelai di Indonesia masih relatife rendah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Susu kedelai merupakan sari kedelai yang diproses dengan menghancurkan biji kedelai dalam air dingin atau panas. Susu kacang kedelai yang dapat dibuat dengan teknologi dan peralatan sederhana.  Kandungan proteinnya yang tinggi, susu kedelai merupakan minuman terbaik untuk mengganti produk susu sapi bagi orang-orang yang intoleransi terhadap laktosa dan kasein

 

Selain digunakan sebagai sumber protein, kedelai juga diolah sebagai produk pangan fungsional yang dapat mencegah timbulnya penyakit degeneratif. Salah satu produk pangan fungsional berbasis kedelai yaitu produk yogurt dari susu kedelai (soygurt). Soygurt mengandung bakteri probiotik streptococcus thermophillus dan lactobacillus bulgaricus yang dapat meningkatkan keseimbangan mikroflora usus sehingga dapat melancarkan pencernaan manusia.  Soygurt juga mempunyai beberapa manfaat yang ditimbulkan oleh proses fermentasi bakteri asam laktat, yaitu menyeimbangkan sistem pencernaan, menurunkan kadar kolesterol, mencegah kanker, danmengatasi infeksi jamur dan bakteri

 

Jumat, 10 Maret 2017 18:22

Kapan Petani Indonesia Mulai Menanam Kedelai?

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(0 votes)

Ditulis Oleh Prof. Mary Astuti -

Kedelai merupakan tanaman pangan sumber protein dan minyak yang sangat penting di dunia. Kedelai yang berasal dari China pada tahun 1100 BC tersebar luas ke seluruh dunia. Berdasarkan warna kulit biji kedelai ada 4 jenis kedelai yaitu kedelai kuning, kedelai hitam, kedelai hijau dan kedelai coklat. Di Indonesia kedelai hijau dan coklat sangat jarang di budidayakan. Yang banyak ditanam adalah kedelai hitam dan kedelai kuning.

Sejak kapan kedelai ditanam di Indonesia dan yang berwarna apa kulitnya? Untuk mendapatkan informasi kapan kedelai ditanam di Indonesia, bisa dipelajari dari warisan budaya nenek moyang, bisa berupa Candi dan Naskah atau buku kuno di jaman kerajaan di Indonesia. Pada Relief candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak ada tanaman kedelai, tanaman pangan yang ada dalam relief adalah padi, pisang, pohon nangka, pohon manga, pohon aren, pohon tebu, pohon durian, pohon jambu air dan pohon jeruk.

Pada Naskah Kuno yang berjudul Sri Tanjung, yang dituliskan oleh Empu Citragota di abad 13-14 menggunakan bahasa kawi, disebutkan Pangajaran patapan anglangu pangubonan mangke, tinanduran kacang wilis, uwi talěs lan těbu, kaḑěle lan kacang luhur, kumbili sabrang rowange, gěḑang gaḑingnya adulur, těbu cintamany ajajar, gěḑang gunting sami ajajar.

Terdapat beberapa tanaman pangan dipesawahan maupun ladang di daerah Blambangan, Jawa Timur yaitu padi yang ditanam di sawah sedangkan kacang hijau, talas, tebu, kedelai, kacang panjang, gembili, pisang ditanam di ladang. Masyarakat Jawa Kuno menyebut tanaman kedelai adalah kaěle* sedangkan masyarakat suku Osing yang berada di Blambangan menyebut kedelai adalah godel. Tanaman kedelai yang ditanam oleh masyarakat Jawa pada Abad 17, bijinya berwarna hitam. Kedelai hitam setelah dihilangkan kulitnya akan dibuat menjadi tepung dan dimanfaatkan oleh orang-orang Cina untuk dibuat menjadi Toustjian, semacam soon yang dibuat dari kacang hijau sekarang.

Masyarakat Jawa dalam membuat usar (Jamur yang menempel dalam daun waru) yang digunakan untuk membuat tempe selalu menggunakan kedelai hitam dan tidak pernah menggunakan kedelai kuning. Dengan demikian bisa diinformasikan bahwa tanaman kedelai mulai ditanam oleh masyarakat Jawa pada Jaman Majapahit dan yang ditanam adalah kedelai hitam.

Halaman 1 dari 7

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini431
Kemarin3090
Minggu ini431
Bulan ini60647
Total853238

Nampak
  • IP Anda: 3.227.233.55

September 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada