Selasa, 11 Oktober 2016 15:17

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(0 votes)
Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun (istimewa)

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak di Indonesia. Sebagian besar produksi kedelai Jepang ini memang untuk pasar ekspor.

Namun belakangan peluang budidaya edamame tidak segurih dulu. Salah satu perusahaan pembudidaya edamame, PT Mitratani Dua Tujuh yang merupakan anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X (Persero) mengakui hal itu.

Direktur Mitratani Wasis Pramono menuturkan, Indonesia mendapat pesaing dari Thailand dan Vietnam yang baru saja menjajal budidaya edamame. Jepang sebagai negara penyerap edamame pun meminta Indonesia menurunkan harga edamamenya.

Alhasil, harga edamame pun turun dari US$ 1,96 per kilogram (kg) tahun lalu menjadi US$ 1,93 per kg. Sayang, Wasis tidak menyebut ongkos produksi edamame di Indonesia. Yang jelas, menurut perhitungannya, harga edamame Indonesia idealnya US$ 2 per kg. "Edamame kita adalah yang terbaik di dunia," ujarnya, belum lama ini.

Meski begitu, Wasis mengklaim harga edamame di tingkat petani stabil, yaitu Rp 3.500 per kg untuk pasar domestik dan Rp 6.000 per kg untuk pasar ekspor. "Dari awal kami sudah teken kontrak dengan petani. Kami tak mau mencederai kontrak itu," ujarnya.

Lantaran pasar ekspor lesu, Mitratani berencana mengurangi lahan edamame dari 1.106 hektare (ha) menjadi 1.000 ha. Target produksi edamame pun naik tipis dari realisasi produksi sebanyak 9.643 ton tahun lalu, menjadi 9.813 ton tahun ini.

Namun bukan berarti Mitratani akan mengerem ekspansinya di pasar ekspor. Perusahaan sedang menjajaki perluasan pasar ke negara-negara Eropa. "Kami baru saja uji coba mengirim satu kontainer edamame ke Jerman," ujarnya. Asal tahu saja, ekspor mendominasi 85% penjualan Mitratani.

Namun pengakuan pembudidaya edamame lainnya, CV Martha Mitra sedikit berbeda. Muhammad Arief Marjuki, pemilik Martha Mitra bilang, harga edamame di tingkat petani merosot hingga di bawah Rp 10.000 per kg dari sebelumnya Rp 13.000 per kg-Rp 14.000 per kg.

Arief menduga, harga edamame jatuh karena pemainnya semakin banyak, sementara permintaan tidak bertambah. "Kami baru memasok ke restoran Jepang di Jakarta," ujar Arief.  (Adisti Dini Indreswari)

 

Read 2205 kali Last modified on Selasa, 11 Oktober 2016 15:20
petani

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Proin ornare consectetur sodales. Nulla luctus cursus mauris at dapibus. Cras ac felis et neque consequat elementum a eget turpis. Aliquam erat volutpat.

Comments  

# Skye 2018-11-16 10:53
I see you don't monetize your blog, but you can earn additional bucks
every day. It's very easy even for noobs, if you are interested simply search in gooogle:
pandatsor's tools

my web blog; youngJulienne: https://facebook.com/Ava3
Reply | Reply with quote | Quote

Add comment


Security code
Refresh

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini639
Kemarin2437
Minggu ini15425
Bulan ini32617
Total610968

Nampak
  • IP Anda: 3.84.130.252

June 2019
S M T W T F S
1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada