Selasa, 11 Oktober 2016 16:14

Keseharian "bule penjual tempe" di London

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(0 votes)
William Mitchell mulai membuka warung tempe dua tahun lalu. William Mitchell mulai membuka warung tempe dua tahun lalu.

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu untuk mempersiapkan makanan khas Indonesia itu.

William Mitchel yang membuka warung tempe dua tahun lalu di satu pasar di London mengatakan ia ingin memperkenalkan tempe agar masuk ke "setiap dapur di Inggris".

"Saya bule tukang tempe," kata William dalam bahasa Indonesia.

"Saya punya tiga pekerjaan, buat tempe, masak tempe dan promosikan tempe," kata William.

William mengatakan ia memulai harinya dengan belanja keperluan untuk memasak tempe pada akhir pekan.

"Senin dan Selasa saya gunakan untuk membuat tempe dan kemudian hari Rabu sampai Jumat saya jualan di pasar," kata William kepada BBC Indonesia.

"Di pasar, saya datang sekitar pukul 07:30 pagi dengan mendirikan tenda dan kemudian dengan dibantu satu orang saya mulai masak tempe sekitar jam 10:00 dan jualan pada waktu jam makan siang," tambahnya.

Konsumen orang Inggris

Berita tentang "bule tempe" sebelumnya sempat populer di Facebook BBC Indonesia. Pengguna bernama MGeklan menulis, "Wah tempe diminati dan disukai oleh orang asing?"

Siroj Hikam, pengguna Facebook lain, bertanya, "Siapa saja konsumen yang membeli tempe?"

William mengatakan, "Sebagian besar orang Inggris di London, namun karena London sangat internasional jadi konsumen saya dari seluruh dunia."

Ia mulai gemar makan tempe saat bekerja di Jakarta pada tahun 1995 sebagai guru bahasa Inggris.

William kemudian belajar tempe khusus di sejumlah kota di Jawa termasuk di Malang.

"Saya banyak menggunakan uang tabungan saya untuk membuat bisnis ini, agak kesulitan dalam enam bulan pertama, namun sekarang lumayan sudah mulai menghasilkan."

"Setiap Rabu, Kamis dan Jumat, saya datang pagi untuk membuat tenda di pasar, kemudian saya masak dan jualan dua jam selama makan siang," tambah William. (BBC)

 

Read 1976 kali Last modified on Selasa, 11 Oktober 2016 16:27
petani

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Proin ornare consectetur sodales. Nulla luctus cursus mauris at dapibus. Cras ac felis et neque consequat elementum a eget turpis. Aliquam erat volutpat.

Comments  

# Lesley 2018-11-22 09:55
walk in tubs (Alda: https://topsitenet.com/article/128893-walk-in-tubs-benefits/)
Reply | Reply with quote | Quote

Add comment


Security code
Refresh

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini1293
Kemarin2725
Minggu ini14677
Bulan ini54528
Total773347

Nampak
  • IP Anda: 18.206.13.39

August 2019
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada