Jumat, 23 Desember 2016 14:19

PROSPEK AGROBISNIS DAN AGROINDUSTRI, APAKAH MEYAKINKAN?

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(0 votes)

Usaha di bidang komoditas tidak terlepas dengan bahan baku alamiah dari hasil cocok tanam atau pertanian. Kegiatan tersebut secara awam banyak dikenal dengan agrobisnis dan ada pula yang menyebutnya dengan istilah agoindustri. Lalu apakah sebenarnya sebutan bagi suatu usaha di bidang pertanian yang ada saat ini? seperti apa wujud dari kegiatan usaha tersebut ? Bagaimana usaha tersebut bekerja dan apa yang dihasilkan? Kedua identitas usaha tersebut telah lama populer di kalangan para pelaku bisnis usaha dan para peneliti. Agrobisnis dan Agroindustri adalah kedua hal yang berbeda dari satu sama lain tetapi memiliki konsep yang sama dalam objek bisnis yang dilakukannya.

Mengenal Agrobisnis dan Agroindustri

Agrobisnis adalah segala kegiatan tata niaga pertanian di lapangan yang melibatkan berbagai kegiatan manajerial di masa pra panen hingga panen. Kelauran dari kegiatan usaha ini bisa bervariasi dari mulai jasa hingga produk semi konsutif tetapi sebgaian produk lagi ada yang siap dipakai untuk keperluan tertentu. Agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Yang dimaksud dengan berhubungan adalah kegiatan usaha yang menunjang kegiatan pertanian dan kegiatan usaha yang ditunjang oleh kegiatan pertanian. Pengertian agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama lain (Edwin, 2015).

Sedangkan Agroindustri berasal dari dua kata, yaitu agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha pertanian. Definisi agroindustri dapat dijabarkan sebagai kegiatan industri yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang, dan menyediakan peralatan serta jasa untuk kegiatan tersebut. Dengan demikian agroindustri meliputi industri pengolahan hasil pertanian, industri yang memproduksi peralatan dan mesin pertanian, industri input pertanian (pupuk, pestisida, herbisida dan lain-lain) dan industri jasa sektor pertanian. Apabila dilihat dari sistem agribisnis, agroindustri merupakan bagian (subsistem) agribisnis yang memproses dan mentranformasikan bahan-bahan hasil pertanian (bahan makanan, kayu dan serat) menjadi barang-barang setengah jadi yang langsung dapat dikonsumsi dan barang atau bahan hasil produksi industri yang digunakan dalam proses produksi seperti traktor, pupuk, pestisida, mesin pertanian dan lain-lain (Edwin, 2015).

Salah satu komoditas bertani yang selalu unggul karena permintaan yang cenderung stabil adalah komoditas kedelai. Kedelai sejak dahulu sudah sangat terkenal dengan berbagai produk – produk komersialnya, bahkan sampai saat ini kedelai terus dikembangkan oleh para peneliti untuk digali berbagai macam inovasi yang dapat dimannfaatkan. Dalam kegiatan usaha berbasis pertanian sendiri banyak sekali ditemukan berbagai identitas dan kelas usaha yang mampu mengolah kedelai menjadi sebuah produk bernilai tambah.

Dalam basis usaha agribisnis, kedelai memiliki prospek yang stabil dari tahun ke tahun meskipun agribisnis kedelai sempat heboh dengan kondisi kelangkaan yang sempat dialami oleh para pelaku usaha komoditas kedelai. Namun semua kondisi tersebut selalu dapat diatasi dan menjadi titik balik kebangkitan bagi para pelaku usaha aktif komoditas kedelai disebabkan permintaan kedelai baik dalam bentuk raw atau mentah maupun jadi.Begitu juga dengan pelaku usaha agroindustri, mereka tidak pernah kehabisan peluang untuk terus memutar arus pendapatan mereka meskipun kondisi kedelai yang langka, tetapi agroindustri biasanya telah menyiapkan rencana penyederhanaan yang digunakan untuk menurunkan loss atau kerugian.

Berdasarkan pemaparan di atas secara singkat keduanya memiliki persamaan yang perlu diperhatikan antara lain :
1. Agroindustri dan agribisnis merupakan usaha yang berorientasi pada profit atau keuntungan dengan berbasis pada sektor pertanian.
2. Agroindustri dan agribisnis merupakan lahan bisnis yang potensial untuk menciptakan lapangan pekerjaa baru, menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar baik tenaga kerja terdidik, terlatih maupun tenaga tidak terdidik dan terlatih, serta meningkatkan pendapatan petani.
3. Agroindustri dan agribisnis adalah bagian dari sistem perekonomian negara yang tahan terhadap krisis dan berkontribusi terhadap peningkatan devisa negara.
4. Agroindustri dan agribisnis menyediakan produk pertanian baik produk siap pakai maupun produk setengah jadi yang dimanfaatkan sektor industri lain sebagai bahan baku.

Prospek Agrobisnis

Prospek atau peluang dalam bahasa keseharian dari kegiatan Agrobisnis sangat dipengaruhi oleh bebrapa hal yang mendominasi antara lain adalah (Bintang, 2015) :

1. Kebutuhan
Baik atau buruknya suatu prospek usaha pada dasarnya adalah hal yang tergantung pada kebutuhan. Kebutuhan adalah hal mutlak yang akan selalu dipenuhi. Prospek usaha diukur dari kebutuhan konsumen, apakah produk / jasa tersebut secara mutlak diperlukan bagi konsumen atau tidak. Prospek usaha yang baik adalah usaha yang menghasilkan sebuah produk keluaran atau jasa yang akan selalu dibutuhkan oleh sebagian besar orang. Sehingga kegiatan usaha tersebut akan menghasilkan produk/jasa yang selalu dapat menjadi partner dalam kehidupan para pelanggannya.

2. Pesaing
Pesaing dalam kegiatan bisnis manapun adalah hal wajar yang selalu akan ditemukan oleh semua pebisnis. Pesaing menjadi parameter penting sebuah prospek usaha bisnis apakah akan memiliki masa keberlanjutan yang panjang dan apakah diperlukan usaha yang signifikan untuk mendapatkan posisi di mata pelanggan ataukah tidak. Semakin ramai pesaing suatu bisnis maka prospek usaha akan menjadi semakin sempit yang akan menjadikan umur kegiatan usaha menjadi relatif singkat tanpa adanya manajerial yang handal bagi pebisnis. Pesaing dalam hal ini adalah pelaku bisnis yang serupa dan memiliki kecenderungan yang merugikan secara pasif maupun aktif dalam bisnis.

3. Kontinuitas
Kontinyuitas adalah masa keberlanjutan yang mungkin dicapai sebuah usaha sesuai dengan visi dan misi usaha tersebut. Kontinyuitas atau waktu dalam bahasa mudahnya, merupakan alat uji paling realistis yang menjadi alat ukur semua aspek bisnis. Suatu prospek usaha akan sangat memiliki kecenderungan masa baik dari hasil usaha yang dikeluarkan atau input yang diperlukan. Prospek usaha yang baik dan bagus adalah mereka yang mendalami kegiatan usaha dengan input yang stabil dan menghasilkan keluaran produk/jasa yang efisien atau seimbang perbandingannya. Dalam kontinuitas sendiri masih terdapat rincian ukuran sebah prospek yang pantas dipenuhi.

Dengan pemaparan di atas, maka diketahui bahwa sebah kegiatan usaha Agrobisnis kedelai ini memiliki ketiga hal tersebut, yaitu faktor kebutuhan, pesaing dan kontinuitas. Diukur dengan kebutuhan, masyarakat di Indonesia ini lebih banyak mengkonsumsi komoditas kedelai dalam bentuk raw produk dan sebagian kecil adalah produk jadi. Sehingga dalam perspektif kebutuhan objek kedelai adalah termasuk kategori yang mutlak diperlukan masyarakat Indonesai maupun negra lainnya. Sedangkan untuk ditinjau dari kegiatan usahanya, agrobisnis kedelai juga sama halnya dengan objeknya yaitu agrobisnis kedelai sebagai rantau penyalur hasil panen tersebut untuk menjadi raw produk yang dinginkan oleh konsumen. Kemudian dari perspektif pesaing, agrobisnis kedelai sudah banyak memiliki pesaing yang unggul dan ternama. Akan tetapi perspektif pesaing agrobisnis dapat dikendalikan dengan pemasaran yang bermutu sehingga kegiatan usaha agrobisnis ini masih dapat diusahakan untuk dapat menembus peluang pasar yang ramai dan diminati. Apabila agrobisnis dengan mutu pemasaran yang bagus maka dapat berkembang ke skala yang lebih luas lagi yaitu agrobisnis perkebunan dan olahan. Sedangkan apabila dari perspektif kontinuitas, agrobisnis kedelai ini fluktuatif bergantung dengan permintaan masyarakat kepada produk – produk hasil olahan dari usaha agroindustri tetapi tidak menutup kemungkinan kontinuitas agrobisnis hilang, mengingat kontinuitas usaha agrobisnis kedelai tidak begitu interaktif dengan konsumen akhir yaitu rumah tangga. Sehingga besar kemungkinan prospek usaha agrobisnis kedelai ini secara kontinuitas lebih minimal daripada agroindustri, karena konsumen dari agrobisnis yang paling menjanjikan adalah agroindustri itu sendiri yang notabene adalah konsumen pertama dari agrobisnis. Permasalahannya adalah tidak semua agroindustri menggunakan raw produk dari agrobisnis yang stabil mengingat prinsip agroindustri adalah mendapatkan nilai tambah dengan input yang sederhana untuk memperoleh keuntungan.

Dibandingkan dengan agrobisnis, agroindustri cenderung memiliki pelaunag atau prospek yang lebih jelas dan terarah. Dalam perspektif kebutuhan, produk dari agroindustri mampu memenuhi kebutuhan dengan variasi produk yang unik. Sehingga ada nilai tambah yang dapat dicapai dengan 1 macam input yang digunakan tetntunya melalui serangkaian perencanaan dan proses olahan yang matang. Secara kebutuhan agroindustri menghasilkan produk kahir yang jadi ataupun mentah (perlu diolah ulang), dan konsumen akan fleksibel dalam memilih cara mereka memenuhi kebutuhan. Dalam hal kebutuhan, agrobisnis tertinggal satu langkah dengan agroindustri yaitu cara memenuhi kebutuhan konsumen. Sehingga prospek usaha agroindustri ini jauh lebih terlihat dibutuhkan ketimbang agrobisnis meskipun agrobisnis merupakan produsen utama. Kemudian apabila dilihat lebih jauh lagi dari perspektif pesaing, agroindustri juga sama halnya dengan agrobisnis yang memiliki jumlah pesaing yang lumayan ramai. Akan tetapi agroindustri lebih beresiko besar daripada agrobisnis. Agroindustri harus menggunakan sekuat tenaga untuk mendongkrak usaha bisnisnya agar pemasaran produk yang dihasilkan tetap menjadi leader brand atau leader dalam aspek lain. Agroindustri yang memiliki nilai tambah seperti itulah yang akan memenangkan persaingan usaha bisnis karena konsumen telah memberikan kepercayaan pada agroindustri tersebut sebagai reward yang tidak tampak. Beresiko lebih besar sebab agroindustri dengan pesaing yang banyak, memerlukan waktu yang lama serta tenaga ekstra dan pemasaran yang ahli, dan tidak semua agroindutri memiliki konsumen yang kondusif. Hal inilah yang menjadikan agroindustri lebih beresiko, hanya saja dengan melalui perencanaan yang matang agorindustri dapat memaksimalkan keuntungan dan menurunkan kerugian. Artinya masih terdapat cara untuk tetap mengendalikan agroindstri tersebut berdiri. Yang terakhir adalah dalam aspek kontinuitasnya agroindustri sangat dipengaruhi oleh permintaan konsumen yang menjadi pangsa pasar utama untuk memasarkan hasil kegiatan usahanya. Dalam hal ini, agroindustri jauh lebih unggul ketimbang dengan agrobisnis. Sebab fokus utama agroindustri adalah olahan komerisal, sehingga kemungkinan besar agroindustri akan lebih berkembang pesat daripada agrobisnis.

Prospek usaha masih memiliki banyak pro dan kontra yang tidak dapat terselesaikan sehingga hanya dapat disederhanakan dengan beberapa pandangan yang dapat dikelola lebih baik lagi.
Sumber :
Amir S, 2015. Strategi dan Kompetensi Arobisnis dan Agroindustri Di Ruang Lingkup Ekonomi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Bintang, D. 2015. Analisis kemampuan usaha bisnis berbanding dengan Hukumpermintaan. Gramedia. Jakarta
Edwin, 2015. Pengantar Bisnis Pertanian Klasik dan Modern. Gramedia. Jakarta

Read 3163 kali Last modified on Jumat, 23 Desember 2016 14:26

Add comment


Security code
Refresh

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini1294
Kemarin2725
Minggu ini14678
Bulan ini54529
Total773348

Nampak
  • IP Anda: 18.206.13.39

August 2019
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada