Rabu, 18 Januari 2017 06:15

Harga Kedelai Naik Keuntungan Makin Menipis

Ditulis oleh
Nilai artikel ini
(0 votes)

PARA perajin tahu di Kabupaten Cilacap mengaku pasrah menghadapi kenyataan bahwa pemerintah per 5 Januari 2017 telah menaikkan harga semua jenis bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 300 per liter, kecuali Premium. Setelah ada kenaikan, sekarang harga Pertamax di Pulau Jawa dan Bali yang semula Rp 7.750 per liter menjadi Rp 8.050 per liter.

Harga Pertalite yang sebelumnya Rp 7.050 per liter kini menjadi Rp 7.350 per liter. Sedangkan harga Pertamina Dex di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY sekarang menjadi Rp 8.500 per liter dan harga Dexlite menjadi Rp 7.200 per liter. ”Sebenarnya kami berharap pemerintah pada 2017 tidak menaikkan harga BBM.

Kami khawatir, kalau harga BBM naik maka harga kedelai pun akan ikut naik. Kalau harga kedelai naik, keuntungan kami akan semakin tipis,” kata perajin tahu, Saimun, warga Desa Karangrena RT 3 RW 6, Kecamatan Maos, Senin (9/1).

Hal serupa juga dikemukakan perajin tahu yang lain, yaitu Aryo Sugiarto, warga RT 3 RW 1 Desa Karangkemiri dan Sugeng Priyono, warga Desa Karangreja RT 3 RW 4, Kecamatan Maos. Saimun mengaku sudah 17 tahun menekuni usaha tahu, tepatnya sejak 1999. Segala persoalan sudah pernah dihadapi.

Mulai dari kenaikan harga BBM sampai kenaikan harga kedelai. ”Bahkan kami dan perajin tahu yang lain pernah menghadapi masa-masa sulit yang cukup lama. Saat itu, harga kedelai tidak menentu. Di satu sisi, kedelai lokal tidak ada di pasaran.

Di sisi, kedelai impor melimpah tapi harganya masih tidak menentu. Para perajin seperti dipaksa menggunakan kedelai impor dengan harga yang terus merangkak naik sedikit demi sedikit,” katanya. Meski banyak tantangan yang dihadapi namun sampai sekarang mereka mampu mempertahankan usahanya.

Mereka mampu bertahan karena berpegang pada prinsip tetap menjaga kualitas, selalu menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan, dan selalu banyak bersyukur. Itulah kunci yang membuat usaha mereka tidak gulung tikar meski banyak tantangan yang dihadapi. Meski membuat tahu termasuk usaha kecil namun ternyata usaha tersebut dapat menambah penghasilan keluaga mereka.

Saimun mengaku setiap hari menghabiskan 75 kg kedelai. Harga kedelai sekarang Rp 7.000 per kg. Di tetap tertentu ada yang menjual seharga Rp 7.500 per kg. Dari 75 kg kedelai akan dihasilkan 4.000 potong tahu. ”Tahu tersebut dijual dengan harga Rp 1.000 per enam potong. Setiap pagi, istri kami yang berjualan ke pasar. Seperti Pasar Kliwon Kesugihan dan pasar yang lain.

Tapi terkadang ada juga ibu rumah tangga atau pemilik warung yang membeli langsung ke rumah kami. Ratarata jam 10.00 sudah habis. Kalau tidak habis, tahu yang masih tersisa dibawa pulang. Biasanya ada tetangga yang mau membeli tahu tersebut,” paparnya.

Ketika harga kedelai naik, para perajin pun menyiasatinya dengan memperkecil ukuran tahu yang diproduksi. ”Kalau harga kedelai naik, ukuran potongan tahu dikurangi sehingga lebih kecil dari biasanya. Biar pendapatan kami seimbang dengan modal. Pelanggan pun bisa memaklumi hal itu,” perajin tahu, Aryo Sugiarto, warga RT 3 RW 1 Desa Karangkemiri.

Perajin tahu merasa senang kalau ada panen kedelai lokal. Alasannya, harga kedelai lokal lebih murah ketimbang kedelai impor. Hanya saja kadar air kedelai lokal lebih banyak ketimbang kedelai impor. ”Antara 2002 sampai 2004, banyak panen kedelai lokal. Peraji tahu banyak mendapat keuntungan sebab mereka bisa menggunakan kedelai lokal sebagai bahan bakunya,” katanya.

Mereka juga mengaku bisa mendapatkan tambahan dari hasil penjualan ampas kedelai atau libah dari pembuatan tahu. Ampas tersebut dibeli untuk pakan ternak. Setiap perajin rata-rata per bulan menghabiskan 7.000 kg kedelai sehingga ampas yang dihasilkan juga cukup banyak. ”Banyak pemilik ternak sapi dan kelinci yang membeli ampas tahu untuk pakan hewan ternak mereka,” katanya.

Kepala Desa Karangrena, Suranto mengatakan, jumlah perajin tahu di wilayahnya cukup banyak. Setiap hari mereka memproduksi ribuan potong tahu. Mereka sudah mempunyai pelanggan di semua pasar yang ada di Kecamatan Maos, Kecamatan Kesugihan dan sekitarnya.

”Keberadaan para perajin tahu jelas sangat mendukung peningkatan perekonomian masyarakat. Bahkan mereka ikut membantu mengurangi pengangguran. Pemerintah desa melalui dinas terkait sudah membantu para perajin mesin genset untuk kelengkapan usaha mereka,” katanya.

sumber : suaramerdeka.com

Read 1490 kali

Comments  

# Lesethins 2019-08-22 09:02
Cialis Et Jus Pamplemousse Buy Liquid Amoxicillin Efectos Viagra Mujeres viagra se puede tomar con alcohol Zithromax Good Sinus Infection Baclofene Quel Dosage Is Generic Cialis Safe
Reply | Reply with quote | Quote

Add comment


Security code
Refresh

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini1299
Kemarin2725
Minggu ini14683
Bulan ini54534
Total773353

Nampak
  • IP Anda: 18.206.13.39

August 2019
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada