Program Operasi Khusus Kedelai yang diberlakukan pemerintah untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi kedelai lokal dibeberapa daerah saat memasuki masa panen, harga panen dirasakan belum berpihak pada petani di Harga Pokok Produksi (HPP). Hasil panen kedelai relatif sangat bagus dan sedikit yang terserang hama penyakit tanaman. Sayangnya, kondisi ini masih belum ditunjang dengan bagusnya harga kedelai lokal di pasaran. Biaya produksi pada titik impas bagi petani dalam menanam kedelai dikisaran harga Rp 7000, sehingga pemerintah telah menetapkan harga pokok produksi panen kedelai petani di angka Rp 7.800. Dipasar, yang terjadi para pedagang memberikan harga kedelai petani dengan pembanding harga kedelai import.  Harga kedelai import berada di kisaran Rp 7.200 untuk pelaku industri. Meskipun HPP kedelai lokal petani di harga Rp 7.800 namun karena masih dibawah harga kedelai import, di pasar harga kedelai petani dikisaran Rp 6.000 sd Rp 6.500. Dalam situasi seperti ini, jika tanpa bantuan adanya program upsus, petani masih menanggung resiko kerugian jika bertanam kedelai. Bisa dipastikan, petani akan beralih untuk budidaya komoditi lain yang lebih memberikan peningkatan nilai ekonominya seperti padi, jagung dan kacang hijau. Melalui program pengembangan kemitraan agribisnis kedelai, Direktorat Pengembangan Usaha dan Investasi, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementrian Pertanian dengan melibatkan kemitraan petani dan gapoktan dengan pelaku industri, dilapanganpun belum berjalan sesuai dengan harapan yang mampu melindungi harga kedelai petani dipasaran.

China sebagai negara pengimport terbesar di dunia sebesar 56.50 juta ton / tahun  dibanding Indonesia yang berada di no 5 sebesar 1.95 ton / tahun (USSEC,2012), saat ini telah mampu mengurangi jumlah import dikarenakan  produksi dalam negerinya meningkat.  Dengan berkurangnya import kedelai oleh China, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap ketersediaan pasokan kedelai yang melimpah yang di produksi oleh USA sebagai importir terbesar dengan kapasitas produksi mencapai 42 juta ton. Melimpahnya produk Import kedelai USA menjadikan harga kedelai import di dalam negeri cenderung tidak mengalami kenaikan. Bagaimanakah dengan harga kedelai petani yang saat ini panen dengan program Upsus Nasional masih di bawah HPP dengan kata lain masih belum berfihak petani ini?. Petanipun mau tidak mau menjual dengan harga dikisaran Rp 6.000 ke para pedagang pasar dan tengkulak pasar untuk menutup kebutuhan ekonominya. Program peningkatan produksi kedelai lokal ditingkat petani target meningkatkan produksi kedelai lokal tahun ini bisa mencapai 1.2 juta ton. Kebutuhan kedelai nasional oleh masyarakat sebesar 2,55 juta ton hampir sebagian besar dipergunakan untuk produksi tempe 60%, tahu 30 % dan sisanya dipergunakan untuk produk olahan yang lainnya seperti kecap, susu kedelai, dsb. Sekor Usaha Kecil Menengah yang mengolah kedelai menjadi tahu tempe di Indonesiapun mencapai angka 115.000 hingga 125.000 lebih. UKM inipun melibatkan dan memberikan nafkah 2,5 hingga 3 juta orang. Angka yang sangat tinggi, betapa pentingnya peran kedelai dalam menunjang produksi pangan tahu dan tempe yang hampir sebagian besar masyarakat familiar dengan ini. Konsumsi tempe pun ditingkat perkapita penduduk di Indonesia sebesar 7 Kg / tahunnya dan tahu sebesar 6,6 kg/tahunnya.

Harga kedelai menjadi kunci insentif untuk menyelamatkan petani kedelai sehingga di tahun tahun mendatang bisa meningkatkan animo petani untuk menanam kembali. Perlindungan petani terhadap produk pasca panen kedelai dapat diterapkan melalui berbagai hal : 1. Upaya proteksi harga dan subsidi harga ke petani melalui Kebijakan Pemerintah. Dalam hal ini peran Bulog untuk komoditi dapat dilakukan di masing masing daerah untuk membeli kedelai petani ditingkat Harga Pokok Produksi. Dengan demikian, penentuan HPP oleh Pemerintah akan dapat diterapkan dilapangan, petani mendapatkan harga jual yang minimumnya sama dengan HPP. 2. Upaya Masyarakat untuk disadarkan pentingnya memilih produk pangan dari bahan baku kedelai lokal dibandingkan dengan produk pangan dari bahan baku kedelai import. Kedelai lokal ukuran biji besar yang sama bahkan sedikit lebih besar dari kedelai import seperti varietas Grobogan, Anjasmoro, burangrang bersifat non modifikasi genetik ( non-GMO/ Genetically Modified Organism), warnanya lebih cerah dan lebih aman untuk konsumsi pangan. Pandangan sementara para pengrajin yang menilai kedelai lokal ukurannya kecil kecil dan kurang baik kualitasnya adalah kurang pada tempatnya.  Sebaliknya, kedelai import malah bersifat sebaliknya, berasal dari rekayasa genetik/transgenik (GMO), warna lebih kusam dan masih pro dan kontra untuk pangan dari bahan GMO seperti ini. Dinegara maju seperti di Uni Eropa, penggunaan bahan baku pangan dari bahan GMO telah banyak ditolak saat ini, minimumnya harus menyantumkan label agar konsumen mengetahui dari GMO atau Non-GMO guna perlindaungan keamanan pangan. Hasil pengujian Kimia dan Biokimia, kandungan lemak pada kedelai lokal justru lebih rendah dan kandungan proteinnya lebih tinggi. Hal ini merupakan keuntungan yang didapatkan konsumen jika mengkonsumsi bahan kedelai lokal. 3. Menggalakkan penguatan produksi kedelai tidak hanya ditingkat on farm namun juga pada tingkat off farm di kelompok usaha tani dan masyarakat petani kedelai.  Proses produksi pengolahan kedelai misalnya saat dijadikan tahu dan tempe di masyarakat saat ini cenderung kurang higienitasnya dari sisi pekerja yang mengolah, penggunaan peralatan dan penanganan limbah seperti limbah tahu yang kalau tidak diperhatikan akan menimbulkan bau dan keresahan masyarakat disekitarnya. 4. Program berkelanjutan pada komoditi kedelai yang melibatkan peran dari Pemerintah daerah dan jajarannya, lembaga litbang, institusi pendidikan tinggi, petani dan gabungan kelompok tani. Dengan demikian, komoditi kedelai yang memiliki peran strategis ke tiga setelah padi dan jagung di Indonesia akan dapat ditingkatkan dan swasembada kembali mengingat komoditi ini sangat penting dalam menunjang produk Tempe sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang di akui oleh Dunia. Kita tidak menginginkan, tempe yang dirujuk oleh dunia ini, nantinya justru produksinya sangat bergantung pada import seperti yang terjadi saat ini.

Swasembada kedelai di Indonesia terjadi di tahun 1984-1985. Hasil tercapai melalui program yang direncanakan secara lima tahunan oleh Pemerintah yang kita masih diingatkan dengan program repelita yang diawali di era tahun 1969. Saat ini, import kedelai dari kebutuhan nasional kedelai yang semakin meningkat dari tahun ketahun diangka lebih dari 60% dari kebutuhan nasional dan harga jual panen petani kedelai yang masih terjun bebas dibawah harga pokok produksi, lambat laun potensi kedelai lokal akan semakin berkurang untuk ditanam petani dan tentunya kita semua menginginkan kejayaan kembali swasembada kedelai yang mampu memberikan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan petani. Melalui adanya proteksi dan subsidi harga kedelai ditingkat petani, mempopulerkan kembali ke masyarakat dan pengrajin terhadap kedelai lokal, menjadikan keseimbangan dan penguatan produksi kedelai mulai dari budidaya (on farm) hingga ke tingkat pengolahan yang memenuhi standart bahan baku pangan (off farm) ditingkat petani dan masyarakat pedesaan, penyusunan program komoditi kedelai yang berkelanjutan melibatkan petani, gapoktan, pemerintah daerah dan jajarannya, lembaga litbang dan institusi pendidikan tinggi. Masyarakat dan pengrajin sudah perlu  untuk disadarkan kembali terhadap kecintaan pemakaian kedelai lokal, tidak hanya dari sisi kualitasnya lebih bagus, namun ada hal yang sangat penting yaitu menunjang produk pangan Tempe sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang diproduksi tidak bergantung pada kedelai import.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari formulasi minuman olahraga berbasis tempe untuk pemulihan kerusakan otot dengan kandungan gizi yang tepat dan dapat diterima secara sensori. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal yaitu jumlah penambahan air untuk melarutkan tepung tempe yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu 500 ml, 600 ml dan 700 ml, dengan masing-masing perlakuan mengandung 23 gram protein. Tepung tempe yang digunakan mengandung kadar air 5,39%, abu 1,22 % berat kering, protein 45,55% berat kering, lemak 33,9% berat kering, karbohidrat 13,94 % berat kering, kalsium 0,14% berat kering, besi 0,018% berat kering, natrium 0,004% berat kering, magnesium 0,06% berat kering, klorida 0,04% berat kering dan kalium 0,10% berat kering. Hasil uji hedonik minuman tempe menunjukkan bahwa penambahan air 600 ml cenderung mempunyai nilai kesukaan secara keseluruhan yang paling tinggi (5,42) dibandingkan dengan penambahan air 700 ml (5,37) dan 500 ml (nilai 4,92) (P>0,05). Minuman tempe dengan penggunaan air 600 ml mempunyai penerimaan secara keseluruhan yang tertinggi dengan nilai 80%. Minuman tersebut mempunyai karakteristik per sajian sebagai berikut kandungan protein 23 gram, karbohidrat 48 gram, lemak 17,11 gram, energi 438 kkal, branched chain amino acids (BCAA) 4161,6 mg, Ca 72,92 mg, Fe 9,46 mg, Mg 33,12 mg, Na 2,37 mg dan Cl 21,30 mg, dan K 54 mg.

Sumber: Jurnal Agritech, Naskah dapat didownload disini

 

Kebutuhan air dan efisiensi penggunaan air merupakan cara sederhana untuk mengetahui apakah hasil tanaman dipengaruhi oleh pasokan air. Tanaman tahan kering mengalami penurunan hasil lebih rendah ketika terjadi cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan air tanaman, efisiensi penggunaan air dan variasi ketahanan kultivar kedelai terhadap cekaman kekeringan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 18 x 4 dengan tiga ulangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober 2012 di Kebun Tridharma  Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dengan ketinggian tempat 110 m dpl. Faktor pertama adalah kultivar kedelai terdiri atas 18 kultivar dan faktor kedua adalah interval penyiraman terdiri atas 4 taraf yaitu penyiraman 1 hari, 2 hari, 4 hari dan 8 hari sekali sampai kapasitas lapangan. Pengamatan kebutuhan air dilakukan mulai umur 15 hari sampai 56 hari setelah tanam dan efisiensi penggunaan air dilakukan pada umur 56 hari setelah tanam. Perhitungan indeks cekaman dan indeks sensitivitas cekaman dilakukan pada umur 84 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Grobogan dan Galunggung tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara  4,87 sampai 4,98 mm dan efisiensi penggunaan air 5,16gram/mm. Kultivar Burangrang, Kaba, Argomulyo, Panderman, Ijen, Baluran, Petek, dan Malabar merupakan kultivar yang agak tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara 3,98 sampai 6,14 mm dan efisiensi penggunaan air antara  3,69 sampai  5,51 gram/mm. Kultivar Sibayak, Tanggamus, Anjasmoro, Wilis, Garut, Gepak Kuning, Sinabung, dan Seulawah merupakan kultivar yang tidak tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara  5,37 sampai 5,95 mm dan efisiensi penggunaan air antara  3,49 sampai 5,60 gram/mm.

Sumber: Jurnal Agritech, Link Download artikelnya disini

Kualitas tempe dipengaruhi oleh bahan baku, proses pengolahan dan jenis inokulum yang digunakan. Kedelai hitamdapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe yang mempunyai kualitas seperti halnya tempe yang terbuat dari kedelai kuning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis inokulum dan lama inkubasi terhadap pertumbuhan jamu, sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan tempe kedelai hitam. Penelitian ini menggunakan kedelai hitam varietas mallika sebagai bahan baku pembuatan tempe. Kedelai hitam yang telah dibuang kulitnya, direndam dan dikukus kemudian dicampur dengan inokulum yang berasal dari biakan murni Rhizopus stolonifer, R. oligosporus dan R. oryzae. Setelah itu diinkubasi selama 24, 30, 36 dan 42 jam pada suhu 25-27 oC. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan jamur, sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan tempe kedelai hitam. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan jenis inokulum dan lama inkubasi berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur, sifat organoleptik dan aktivtas antioksidan. Pertumbuhan jamur meningkat sampai lama inkubasi 36 jam, kemudian turun. Panelis memberikan nilai tertinggi pada tempe yang diinkubasi selama 36 jam. Ada kecenderungan lama inkubasi tempe meningkat aktivitas antioksidannya. Kesimpulan dari penelitian ini Rhizopus stolonifer mempunyai karakteristik relatif lebih tinggi pertumbuhan jamur, sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan dibandingkan jenis jamur yang lain pada lama inkubasi 30 jam.

Sumber: Jurnal Agritech. Link Download Artikel disni

Pembangunan Pertanian di Kabupaten Grobogan Sub Sektor Tanaman Pangan khususnya tanaman padi, jagung dan kedelai merupakan tanaman yang harus dipandang bukan hanya sebagai pembangunan parsial pengembangan komoditas, tetapi terkait dengan pembangunan wilayah serta sub sektor tanaman pangan untuk memperkuat petani sebagai pelaku agribisnis. Keberhasilan pembangunan pertanian didukung oleh kualitas penyajian data statistik tanaman pangan yang sering menimbulkan banyak perdebatan diantara pemakainya.

Di satu pihak menganggap angka produksi yang ada terlalu over estimate, karena hanya berdasarkan pada metode eye estimate, sementara pihak lain menganggap under estimate, maka perlu sistem perstatistikan data pertanian yang berkesinambungan, dimulai dari tingkat perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai dengan tingkat evaluasi.

Kabupaten Grobogan mempunyai potensi sumber daya lahan meliputi lahan sawah, lahan kering, hutan rakyat dan hutan negara dengan topografi dan iklim yang mendukung perkembangan pertanian.

Kabupaten Grobogan merupakan daerah yang berpotensi terhadap pemanfaatan pengembangan lahan tanaman padi, jagung dan kedelai, pemanfaatan lahan secara intensif terutama lahan potensial di daerah-daerah sentra untuk dapat mendukung keberhasilan produk tanaman pangan.

Perkembangan produkivitas padi lima tahun terakhir di Kabupaten Grobogan yang prosentase terbesar adalah padi varietas Ciherang. Produktivitas padi sawah rata-rata tahun 2007 sebesar 60,96 Kw/ha, produktivitas tahun 2008 sebesar 63,35 Kw/ha atau mengalami kenaikan 3.92 % dari tahun 2007, produktivitas tahun 2009 sebesar 64,33 Kw/ha atau mengalami kenaikan 1,55 % dari tahun 2008, sedangkan produktivitas tahun 2010 sebesar 63,50 Kw/ha atau mengalami penurunan 1,29 % dari tahun 2009, Produktivitas tahun 2011 sebesar 53,87 Kw/ha atau mengalami penurunan sebesar 15,17 % Sementara perkembangan produksi padi sawah tahun 2011 adalah sebesar 574.671 Ton atau mengalami penurunan sebesar 89.069 Ton atau sekitar 15.50 % dari tahun 2010.

Produktivitas tanaman jagung pada periode lima tahun terakhir adalah sebagai berikut : produktivitas tahun 2007 sebesar 49,26 Kw/ha. Produktivitas tahun 2008 sebesar 54,36 Kw/ha atau mengalami kenaikan sebesar 9,38 % dari tahun 2007, produktivitas tahun 2009 sebesar 52,85 Kw/ha atau mengalami penurunan 2,77 % dari tahun 2008, sedangkan produktivitas tahun 2010 sebesar 54,00 Kw/ha mengalami kenaikan 2,17 % dari tahun 2009, produktivitas tahun 2011 yaitu sebesar 55,59 Kw/ha atau mengalami kenaikan sebesar 2,94 % dibandingkan dengan tahun 2010.

Produktivitas tanaman kedelai pada tahun 2007 sebesar 24,57 Kw/ha, periode lima tahun terakhir sebagai berikut : produktivitas tahun 2008 turun 18,4 % dari tahun 2007 dan produktivitas tahun 2009 naik 21,51 % dari tahun 2008, sedangkan produktivitas tahun 2010 mengalami penurunan 2,13 % dari tahun 2009, dan pada tahun 2011 ini produktivitas Kedelai mengalami penurunan sebesar 14,9 %, dengan luas panen Kedelai 7.350 ha, turun 76,95 % dari tahun 2010 , terjadi penurunan produksi sebesar 80,39 %.

Komoditas hortikultura semakin intensif dikembangkan di Kabupaten Grobogan dengan tujuan meningkatkan nilai tambah bagi petani. Komoditas hortikultura yang berkembang antara lain semangka, melon dan jambu air.

Minggu, 26 Februari 2017 12:03

Kelompok Tani Kabul Lestari

''Kelompok tani ini didirikan sejak 1 Mei 1997 dengan jumlah anggota pada awalnya 25 orang. Sekarang sudah bertambah menjadi 75 orang, dengan luas lahan binaan 84,72 hektare,'' kata dia.

 Sejak awal, menurut Ali Muchtar, Kabul Lestari telah berusaha mewujudkan usaha pertanian berwawasan agribisnis. Karena cara ini dipandang mampu memberikan keuntungan bagi petani sesuai potensi lahan di tempat itu.

 

Pilihan petani jatuh pada pembudidayaan komoditas kedelai varietas unggulan. Meskipun pada musim tertentu, petani tetap menanam padi di luar palawija. Pilihan membudidayakan kedelai varietas unggul membuahkan hasil. Terutama setelah mencoba beragam varietas seperti Taichung, Lokon, Wilis, dan terakhir jenis Malabar Grobogan.

Benih unggulan jenis Malabar Grobogan menjadi pilihan terakhir petani. Selain, usia tanamnya relatif pendek (71 hari), biji polong kedelai yang dihasilkannya pun jauh lebih besar dan banyak dibanding menggunakan benih lain. ''Di sisi lain produksi kedelai menggunakan benih jenis Malabar Grobogan juga bisa mencapai 2,5 -3 ton per hektare,'' jelas Ali Muchtar.

Diakuinya, potensi produksi yang dihasilkan petani menggunakan Malabar Grobogan melebihi rata-rata produksi nasional yang hanya berkisar 2, 2 ton per hektare

 

Penghargaan dari Presiden pada Kelompok Tani Kabul Lestari

Produktivitas kedelai yang lumayan tinggi tersebut menjadi salah satu penyebab Kabul Lestari meraih penghargaan pangan nasional tahun 2007. Selain itu, masih ada penggunaan pupuk organik, dan pemanfaatan sumur resapan yang menjadikan Kabul Lestari dianggap bisa dijadikan contoh bagi kelompok tani lain. Terkait penghargaan ketahanan pangan 2007 melalui pengembangan agribisnis kedelai, Kabul Lestari berhasil menyisihkan ratusan kelompok tani serupa se-Indonesia.

 Produksi kedelai di desa tersebut mencapai 3,4 ton per hektar dengan rata-rata kelompok pada angka 3,2 ton per hektar. Semuanya ditanam pada musim hujan meski pemerintah menganjurkan penanaman kedelai pada musim kemarau.

Keberhasilan para petani Desa Panunggalan memproduksi kedelai dengan produktivitas tinggi ini berkat penelitian kedelai yang dirintis Tjandramukti. Kerja kerasnya selama bertahun-tahun berhasil mengangkat kedelai lokal grobogan, temuan Tjandramukti, menjadi benih unggul nasional.

 Keunggulan kedelai grobogan membuat Pemerintah Kabupaten Grobogan mendaftarkan kedelai temuan Tjandramukti sebagai benih unggul nasional pada 2008. Dalam penelitian lebih lanjut, oleh Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), ditemukan dua jenis kedelai dari temuan ini.

Satu jenis kedelai berwarna kuning mengilap dengan produksi lebih rendah. Satu jenis lagi berwarna lebih kusam dengan produksi lebih tinggi. Jenis kedua akhirnya diresmikan menjadi benih unggul nasional dengan nama kedelai lokal grobogan.

Kedelai Hitam Malika, Kedelai Berkualitas Asli Indonesia

11 Oktober 2016

Kecap dapat dikatakan sebagai salah satu pelengkap makanan yang kerap digunakan masyarakat Indonesia. Karena itu,...

Swasembada Kedelai, Indonesia Butuh 2 Tahun Lagi

11 Oktober 2016

Kementerian Pertanian menargetkan Indonesia bisa swasembada kedelai pada 2018 dengan penyaluran bantuan benih dan sarana...

Pamor Kedelai Edamame Indonesia Turun

11 Oktober 2016

Meski pun tidak begitu populer untuk dikonsumsi di dalam negeri, namun budidaya edamame cukup marak...

Mengapa pilih tempe untuk bisnis kuliner di London?

11 Oktober 2016

Seorang pemilik warung tempe di London mengatakan ia sangat suka tempe dan belajar di banyak...

Keseharian "bule penjual tempe" di London

11 Oktober 2016

Seorang warga Inggris yang memiliki warung tempe di London bercerita tentang kegiatannya dalam satu minggu...

Kunjungan Web

Hari ini1576
Kemarin2568
Minggu ini14035
Bulan ini49891
Total924308

Nampak
  • IP Anda: 3.228.21.186

October 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31
Copyright © 2019 Pekakekal (Pengembangan Kajian Kedelai lokal) All Rights Reserved.
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada